Kita Datang, Kita Nonton, Kita Ulas Captain America: Civil War

Hai, Pibi! Seperti yang Tim PalingBaru janjikan di artikel kemarin, kali ini kita akan mengulas sedikit tentang Captain America: Civil War. Kenapa sedikit? Ya, karena Pibi yang belum nonton nggak mau baca spoiler, kan?

Captain America: Civil War dibuka dengan adegan Captain America, Black Widow, The Falcon, dan Scarlett Witch yang sedang melawan Crossbones, yang udah jadi anggota Hydra, di Lagos, Nigeria. Apa yang terjadi di Lagos ini jadi salah satu peristiwa penting yang melatarbelakangi kenapa Captain America dan Iron Man berkonflik, Pibi. Begitu juga kejadian setelah Tony Stark ngasih seminar di MIT. Intinya sih dari kedua adegan, baik di Lagos maupun MIT, Iron Man dan Captain America punya pendirian berbeda tentang hal yang sangat fundamental, yaitu, ideologi.

Captain America

Sejak seminar di MIT, Pibi bisa lihat kalau Tony Stark sudah mulai memikirkan kembali tentang apa yang dia dan teman-teman superhero-nya lakukan, termasuk apa konsekuensinya bagi masyarakat umum. Dengan keberadaan super villains, pasti sulit banget buat menerapkan manajemen konflik yang berbasis musyawarah untuk mencapai mufakat (bayangkan kamu harus bernegosiasi sama Loki atau Ultron). Apalagi Avengers terdiri dari anggota yang diberkahi dengan:

  • Uang banyak;
  • IQ tinggi;
  • Kemampuan atletis;
  • Penampilan fisik di atas rata-rata;
  • Natural godly power;
  • Anger management yang membuat pemain Chelsea, Diego Costa, jadi kelihatan kayak malaikat.

Kesabaran yang dibutuhkan dalam manajemen konflik bukan sifat yang bisa mereka banggakan karena mengontrol kemampuan sakti mereka sendiri aja udah cukup menyita banyak waktu. Nah, dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) peran pemerintah dan para negosiator itu minim banget selama ini. Emang sih hal ini karena negara juga nggak punya kapasitas mumpuni buat melawan penjahat-penjahat yang ada, makanya butuh Avengers. Tapi, dengan berbagai laporan kejadian bangunan-bangunan roboh sehingga banyak manusia nggak berdosa yang jadi korban, pemerintah AS dan PBB merasa perlu turun tangan buat mengatur Avengers, termasuk membuat mereka mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang membuat nyawa nggak berdosa melayang. Sayangnya, buat Captain America (dan anggota-anggota Avengers lain yang sependapat sama dia) Avengers nggak boleh diintervensi.

Black Widow

Baca Juga: Captain America: Civil War Tayang Perdana Hari Ini! Kenalan Dulu Yuk Sama Salah Satu Pemeran Jagoannya!

Menurut Steve Rogers, dalam menyelamatkan banyak orang pasti akan memakan beberapa korban. Itu hal lumrah. Sedangkan argumen yang bikin dia tetep kekeuh Avengers harus independen adalah para politisi yang mengurus negara itu punya agenda masing-masing dan agenda itu bisa berubah tergantung kepentingan mereka. “What if something happens somewhere and we’re not allowed to go there?”, kurang lebih itu pembelaan Captain America. Sementara mereka yang setuju dengan intervensi pemerintah (Iron Man, Black Widow, Vision, dan War Machine) menganggap sikap Captain America itu bentuk arogansi dan bikin mereka nggak ada bedanya sama penjahat-penjahat yang berbuat sesukanya.

Vision 

Jujur sih Tim PalingBaru merasa perdebatan soal ideologi ini penting buat dibahas karena selama ini para superhero jarang banget dapat tantangan dari otoritas legal lain padahal mereka udah nerobos berapa perbatasan negara lain dengan ilegal, ngerobohin berapa bangunan, dan utamanya sih bikin berapa nyawa nggak berdosa hilang. Di satu sisi, ketakutan Steve Rogers cukup beralasan. Kalau Loki nyerang Korea Utara, bisa jadi sih pemerintah AS akan mengeluarkan keputusan melarang Avengers kesana karena bla bla bla. Tapi di sisi lain, pemerintah AS juga harus berhadapan sama pemerintah negara-negara lain yang protes lewat PBB atas kerugian yang disebabkan Avengers. Ketika proses penandatanganan Sokovia Accords di Wina, Austria, perbedaan semakin meruncing.

Iron Man

Baca Juga: Kostum baru Spiderman di film Captain America: Civil War! Spiderman Terlihat Lebih Fresh

Baron Zemo, salah satu tokoh antagonis di Captain America: Civil War, sempat bilang kalau alasannya menjadi jahat adalah karena ayah dan istrinya meninggal di Sokovia karena “kecerobohan” Avengers selama misi penyelamatan. Kotanya hancur, keluarganya meninggal, tapi Avengers kembali ke tempat asalnya tanpa dimintai pertanggungjawaban. Hmm.. Dilematis kan, Pibi?

Sementara masing-masing sudah menentukan sikap, Peter Parker a.k.a Spider-Man yang direkrut belakangan sama Tony Stark rasanya gabung sama Tim Iron Man bukan dilatarbelakangi perkara kesamaan ideologi, tapi karena pengen bikin Tony Stark terkesan, deh. Karena Parker mengidolakan Stark. Kemarin kita udah bahas soal si Tom Holland, pemeran Spider-Man, yang dapat banyak pujian karena aktingnya di Captain America: Civil War. Menurut pengamatan Tim PalingBaru (ciye), Holland emang cocok banget merepresentasikan Spider-Man masa kini yang jauh lebih chatty daripada Spider-Man era Tobey Maguire. Sejak kemunculan Spider-Man (dan Ant-Man), banyak dialog-dialog lucu bahkan ketika satu sama lain saling serang.

Baca Juga: Hari Ini 20th Century Fox Rilis Trailer Terbaru X-Men: Apocalypse!

Menuju akhir film sih kejutan-kejutan mulai bermunculan, termasuk apa yang udah dilakukan Bucky Barnes di masa lalu yang sampe bikin Tony Stark makin marah (selain common knowledge kalau dia sempat gabung sama Hydra, apapun alasannya). Satu hal yang Tim PalingBaru sayangkan dari Captain America: Civil War ini. Latar belakang yang bikin mereka berlawanan satu sama lain sampe tercipta faksi, yaitu, ideologi yang berseberangan, nggak pernah dituntaskan. Kedua faksi saling berkonflik karena perbedaan itu, lalu apa solusinya? Kayaknya jawaban atas pertanyaan ini juga nggak akan ditemukan di Avengers: Infinity War yang bakal tayang tahun 2018. Nampaknya mereka akan berkolaborasi lagi melawan super villains lain tanpa benar-benar menyelesaikan isu apakah Avengers harus diintervensi negara atau nggak. (RF)

Tags: 

admin's picture


Joined: 09 Aug 2016

Tinggalkan Komentar