Health

Hasil Studi, Merokok dan Makan Cepat Saji Punya Efek Buruk Pada Otak

Palingbaru– Sahabat PiBi pastinya sudah banyak yang tahu bahwa merokok, memakan makanan cepat saji dan minum minuman keras, bisa memunculkan efek tidak baik bagi kesehatan. Terutama merokok.

Namun, meski di bungkus rokok sudah tertera tulisan dan ilustrasi tentang bahaya merokok, toh masih banyak yang mencuekinya. Padahal, yang tidak banyak diketahui oleh perokok, ternyata bahaya merokok itu tidak hanya pada kesehatan. Tetapi juga merusak otak perkembangan mental.

Sebuah studi baru seperti dilansir dari indiatimes.com, mengungkapkan fakta mengejutkan. Menurut sebuah studi yang diterbitkan American College of Cardiology, anak-anak muda yang merokok dan makan makanan cepat saji, akan menghancurkan ingatan mereka dan bahkan merusak kemampuan belajarnya.  Studi tersebut mengungkapkan, gaya hidup dan kebiasaan makan yang buruk di tahun-tahun remaja, dapat secara dramatis membahayakan perkembangan mental bertahun-tahun.

Peneliti telah mempelajari lebih dari 3000 orang selama 31 tahun dari tahun 1980 sampai 2011 di Finlandia. Mereka melacak gaya hidup dan catatan medis mereka di masa remaja dan masa dewasa. Para peneliti menemukan, kebiasaan makan yang buruk dan merokok di masa remaja, ternyata bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak.

Bahwa perokok remaja memiliki otak yang lebih lelah di kemudian hari daripada rekan mereka yang tidak merokok. Kadar kolesterolnya juga tinggi yang berasal dari memakan makanan cepat saji. Dan, remaja perokok dan non-perokok ternyata memiliki perbedaan selisih 3,4 tahun di usia otak. Pendek kata, merokok dan memakan fast food dengan tidak terkontrol, bisa mengakibatkan penuaan otak atau juga demensia.

Nah, merujuk pada efek buruk pada otak yang bisa diakibatkan oleh rokok dan makanan cepat saji, sudah saatnya sahabat PiBi memulai gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat yang bukan hanya fisik, tetapi juga pikiran, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya makan dan minum yang sehat, tidak merokok dan mengurangi stres. Itu cara bagus untuk mencegah terjadinya dementia.

by Hadi Santoso

Tags

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close