Uncategorized

Kisah Hidup Yang Penuh Dengan Perjuangan Orang Tua dan Bisa Membangkitkan Semangatmu!

Dalam suatu kehidupan, kita pasti pernah merasakan yang namanya susah maupun senang, namun, dalam kenyataan saat ini, “ yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”, tapi, Allah adil dibalik kesusahan dalam hidup pasti ada kesenangan tersendiri yang datangnya tidak terduga. hidup itu perlu perjuangan serta kerja keras, jika kita sudah menjalankannya dengan tekad yang tinggi serta Tawakal yang cukup kuat, pasti kita akan menemukan kebahagaiaan meskipun secara perlahan.  Kini, palingbaru.com mengangkat sebuah cerita Curahan Hati Seorang Anak Yang Kisah Hidupnya Penuh Dengan Perjuangan Bersama Keluarga Kecilnya.   Kami berharap semoga Cerita ini, dapat menginspirasi kita semua, agar selalu mensyukuri Nikmat Yang diberikan oleh Allah SWT.

Semula , Pukul 03.30 pagi,  saya dibangunkan oleh suara derit pintu depan yang terbuka, dengan keadaan rumah yang kecil, serta dinding kayu yang sederhana, tak dapat menyembunyikan suara gesekan pintu yang dibuka. Selain itu, Aku juga mendengar desir rantai dan roda motor butut milik keluarga kami, yang didorong melewati depan pintu kamarku, lalu keluar ke halaman, hingga suara pintu depan ditutup dan dikunci, kemudian, aku mendengar derit pelan pintu pagar kawat sederhana yang dibuat oleh ayah untuk mencegah kambing atau hewan lain, agar tidak masuk ke halaman dan tidak memakan tanaman milik ibu yang ada didalam. Aku tahu, jika motor itu dituntun menjauh dari rumah kami. Lalu, batuk pelan terdengar ditelinga ku, ketika motor tersebut dinyalakan, sebelum mengeluarkan suara raungan kasar yang sayup ku dengar hingga semuanya kembali sunyi seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak lagi bisa memejamkan mata, karena, bayangan ibu dan ayahku yang sudah tak muda lagi menembus kabut pagi buta yang dingin dengan motor kuno yang bisa mogok kapan saja menuju pasar induk untuk membeli beberapa barang yang bisa dijual lagi, yang selalu muncul dalam pikiranku. Hingga, aku pun terbangun dan melihat kedua adikku tertidur lelap dalam damai, karena, mereka belum menyadari bagaimana beratnya hidup yang telah keluarga kami rasakan.

orang tua menahan kesedihan (foto: arousingdestinathans.files.wordpress.com)

Baca Juga: 3 Fakta Jika Kamu “Ada Rasa” Dengan Temanmu!

Selama ini,  ayahku selalu berkata bahwa kami bukanlah orang miskin, dan ayah menolak untuk dikatakan miskin. Karena, “Jika kita mengatakan kita miskin, berarti kita tidak mensyukuri apa yang kita punya saat ini. Kita masih punya rumah, kita tidak kekurangan makanan, bahkan, kalian masih bisa sekolah,  sedangkan diluar sana masih banyak lagi yang lebih kekurangan dari pada kita” ulas ayah kepadaku dan kedua adikku. Sering prinsip ayah, membuat ku merasa kesal, dan aku berpikir, apa salahnya jika aku mengatakan bahwa kami miskin? Toh memang kenyataannya kami kesulitan secara ekonomi. Bagaimana tidak, Atap rumahku sudah bercampur antara genteng,dengan beberapa bagian dilapisi dengan seng bekas yang ditemukan oleh ayah dekat pasar, dan ada juga atap dari anyaman daun kelapa didapur yang kulapisi dengan terpal bekas, yang ku temukan tak sengaja di tempat sampah. Setiap aku mengeluhkan hal itu, ayah dengan tenangnya menjawab “Yang penting sekarang rumah kita tidak bocor ketika hujan” *sambil tersenyum. Sedangkan, Bicara tentang keadaan rumah yang lain, kami beruntung karena lantai dan seperlima dinding rumah kami sudah permanen, sehingga kami tidak memerlukan ranjang untuk tidur. Namun, Sisanya masih berupa papan yang mungkin sudah tidak layak untuk dipakai kembali, tetapi masih kuat, ada bekas sarang rayap karena memang papan itu lebih tua dari umur ku. Ayah sering membuat larutan kapur sirih lalu mengoleskannya ditempat yang mulai digerogoti rayap, dan ia akan menutup lobang-lobang rayap dengan semacam lem yang terbuat dari lem kayu putih yang entah dicampur apa sehingga ketika kering membuat dinding seperti dipenuhi panu, lalu ketika aku mengeluhkan hal itu maka ayah selalu menjawab “Yang terpenting kita tidak kedinginan jika malam tiba” dengan perasaan dan ekspresi yang sama.

Tidak hanya itu, Aku terkadang juga merasa kesal dengan ibuku, karena, ia sering menyuruhku menambal seprei atau selimut yang robek nya begitu parah, sekaligus menjahit baju-baju yang robek, jangankan membeli baju baru, baju lama saja jarang aku memakainya meskipun hari lebaran tiba. Belum lagi makanan kami yang amat sangat sederhana, sering aku memasak dari sisa sayur jualan ibu yang sudah layu untuk sarapan dengan nasi yang agak berbau namun belum basi. Aku berangkat ke sekolah dengan uang saku tiap harinya sebesar seribu rupiah, cukup untuk sekali jalan naik kendaraan umum, sehingga aku harus memilih untuk naik angkut pada saat berangkat atau ketika pulang , akan tetapi aku lebih suka berjalan kaki pulang pergi. Sehingga, uang jajan ku bisa ku simpan. Sedangkan, Adikku yang nomor dua juga berpikiran sama denganku, yaitu senang berjalan kaki, agar uangnya bisa dipakai jajan. Untuk menghilangkan rasa lelah, Sepanjang jalan kami berdua mengisinya dengan bercerita dan bercanda sehingga tidak terlalu terasa jika perjalanan kami cukup jauh, biasanya kami berpisah di depan sekolah adekku, karena sekolahku sedikit lebih jauh dari SMP adikku. Adik bungsu ku masih TK, ia sekolah di taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah kami. Terkadang, Aku sering mengeluh ibuku tidak adil ketika membelikan makanan yang enak untuk kedua adikku sementara aku tidak, karena, aku sudah besar dan bisa makan apa saja bahkan aku bisa memasak makanan sendiri sesuai dengan keinginanku, atau ketika adikku meminta uang lebih untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, aku harus bertahan dengan seribu rupiahku walaupun ada pelajaran tambahan sehabis jam sekolah. Ibuku selalu menyuruhku membawa bekal kalau ada pelajaran tambahan dengan alasan aku bisa memasak sendiri sedang adikku tidak.

Ayah: “kami bukanlah orang miskin” (Foto: pixabay)

Baca Juga: Pesan Dari Ayah Dan Ibu Untuk Anaknya, Yang Tak Dapat Tersampaikan Secara Langsung

Jika sedang tak ada pelajaran tambahan dan jam pulang adikku jauh lebih sore, aku sering berjalan pelan-pelan memutar lebih jauh agar tidak langsung sampai di rumah. Aku sering berjalan sambil menghayalkan hidupku tidak sesulit saat ini, kadang sambil memaki kedua orang tuaku dan menganggap mereka bertanggung jawab atas hidupku yang sulit, aku berharap bisa ikut les di tempat yang bagus seperti adikku nomor dua dan bukan ikut les gratis di sekolah, bisa memakai pakaian yang bagus seperti teman-temanku dan bukan baju bekas entah siapa yang kebesaran. Aku sering duduk bendungan sungai kotor dekat rumahku, tidak ada seorangpun yang suka datang ke tempat itu – mungkin karena aromanya, dan menangis tanpa suara sampai aku lelah dan haus lalu pulang.

Rutinitas di rumahku selalu sama setiap hari, pukul 03.30 pagi orang tuaku pergi ke pasar induk, kemudian ayahku mengantar ibuku untuk berjualan di pasar inpres dan meninggalkannya disana, lalu, ayah akan pulang ke rumah dan beristirahat sejenak. Pukul 05.00 pagi aku bangun dan memilah-milah sayur atau bahan makanan yang ku temukan agar bisaku masak untuk sarapan, sambil menanak bubur dari nasi, untuk adik bungsuku yang tiap pagi harus sarapan bubur karena kalau tidak, ia tak akan mau sarapan. Sementara itu, adikku nomor dua akan menyetrika seragamnya, kemudian dias mandi dan bersiap-siap. Setelah yang nomor dua mandi, aku akan membawa adik bungsuku ke kamar mandi dan memandikannya, ketika ku memandikan adik bungsuku, sangat membutuhkan perjuangan karena ia akan meronta tidak senang dan aku akan menyanyikan lagu konyol agar ia tertawa, yang juga membantunya mengenakan pakaian dalam, karena ia mau mengenakan seragam TK nya setelah sarapan pagi, jika tidak, ia akan mengotorinya. Lalu adikku nomor dua akan menyuapinya sementara ia sendiri sarapan, sementara aku bergantian untuk bersiap-siap.

Biasanya ayah ku sudah bangun pukul 07.00 setelah istirahat 30 menit dan ia akan menyiapkan adik bungsuku sementara aku dan adikku nomor dua sudah siap berangkat ke sekolah. Apakah aku Sarapan? Tidak, aku tidak suka sarapan pagi , lebih tepatnya tidak sempat, tetapi karena posturku ‘besar’ jadi tidak pernah ada masalah dengan hal itu. Nantinya ayahku, yang akan mengantarkan adik bungsuku, dengan menggunakan motor kuno, kami ke pasar sebelum berangkat bekerja dan Ibuku yang akan menjemput adik bungsuku setelah berjualan. Semuanya sudah diatur, yang aku sendiri tidak ingat kapan dimulainya jadwal itu.

Baca Juga: 5 Alasan, Mengapa Seseorang Masih Ingin Mempertahankan Hubungan nya !

Keluhan-keluhanku, rasa bosan dan jenuh, rasa minder, dan perasaan-perasaan lain yang menusuk hatiku hilang ketika suatu hari aku pulang sekolah lebih cepat dari biasanya karena sakit perut. Waktu itu hari sabtu, tepatnya hari libur ayah. Biasanya hari itu adalah hari dimana untuk memperbaiki rumah bagi ayahku. Aku memasuki halaman rumah tanpa suara, sebenarnya, aku malas pulang tetapi tidak ada tujuan lain apalagi perutku terasa seperti ditusuk-tusuk. Aku berdiam sejenak didekat jendela kamarku, berpikir apakah lebih baik aku masuk mengaku sakit pada ibu atau langsung masuk kamar dan tidur tanpa suara??.

Aku refleks bersembunyi ketika melihat bayangan ibu memperbaiki tirai kamar yang ku jahit dari seprei yang rusaknya begitu parah, sementara sisanya ku jadikan kain lap. Saat itu untuk pertama kalinya aku mendengar ibu menangis, seolah ingin menahan tangisnya, tetapi sia-sia dan aku masih bisa mendengar isak tangisannya. “Eka harus kuliah, bagaimana pun caranya” ulas ibu, “Yah, aku juga berpikir demikian ma. Tetapi bagaimana caranya?” jawab ayahku pelan “Aku banyak dosa sama anak itu pa, anak yang pertama kali lahir dari rahimku tetapi tidak sekalipun bisa kubahagiakan. Kamu lihat gorden ini? Eka yang buat, kamu lihat sprei-sprei ini? Eka juga yang jahit, kamu lihat selimut, baju-baju, kasur, bahkan atap dapur? Eka yang perbaiki. Kamu ingat pa? kapan terakhir kali kita membelikannya baju baru? Sudah tiga tahun berlalu dan tidak ada baju baru untuknya sedangkan uang tabungannya malah dia gunakan untuk membeli baju baru adik-adiknya. Begitu besar dosa yang kita perbuat padanya pa. “Diam-diam aku mengiyakan perkataan ibuku, tetapi ada perasaan aneh yang menusuk dalam hatiku, perasaan yang mungkin tidak berharga. “Pa, kamu ingat keluhan-keluhan Eka? Tetapi dia tidak pernah mengeluh terlalu lama, ia juga tidak marah pada kita. Kamu ingat ketika ia mengeluh tentang makanan? kemudian, ia membawa bibit cabe dan bawang untuk ditanam di halaman, ia mengurus adik-adiknya tiap hari. Eka mencari jalan keluarnya sendiri, aku merasa gagal menjadi ibunya, pa..” ulas ibuku semakin jelas, dan perasaan tidak berharga itu kembali muncul dihatiku. “Kita harus melakukan sesuatu, pa. Eka harus kuliah, cita-citanya harus kesampaian” dan ayah pun langsung menjawab perkataan ibu, “Yah, papa juga sudah memikirkan hal itu. Mungkin papa akan ambil lembur dibengkel, rumah juga sudah banyak diperbaiki jadi papa bisa cari kerja tambahan Sabtu dan Minggu. Papa tidak akan mempermalukan anak-anak kita dengan mengaku miskin, ma. Anak-anak harus tetap bisa mengangkat kepala mereka dan tidak dipermalukan dengan keaadaan kita yang seperti ini adanya, papa akan kerja lebih keras lagi.”  Dan ibu pun langsung menyahutnya, “Mama juga akan jualan siang pa, Nurah bisa ku ajak ke pasar. Karena, Pasar tidak terlalu ramai ketika disiang hari.”

Baca Juga: 3 Cerita Lucu Tentang Cinta!

Pembicaraan mereka masih berlanjut tetapi aku tidak bisa mendengarnya lagi, mataku perih dan perutku sudah tak lagi terasa sakit. Diam-diam aku meninggalkan rumah, aku berlari ke pinggir bendungan dan menangis di sana. Dadaku terasa sesak dan air mataku tidak lagi bisa aku bendung. Oh, ya Tuhan…akulah yang sudah berdosa kepada kedua orang tuaku. Memang benar aku yang memperbaiki atap, sprei, selimut, tirai, baju-baju tetapi apa istimewanya hal itu? Memang benar aku menggunakan tabunganku untuk membeli baju baru adikku, lalu apa istimewanya hal itu? Bayangan orang tuaku bangun pagi-pagi buta ke pasar untuk jualan, mengingat ayah dan ibu mengangkat barang-barang berat untuk dibawa ke pasar inpres. Dan itu mereka lakukan setiap hari, tanpa mengeluh tanp meminta imbalan sedikitpun kepada anak-anaknya, dan mereka masih sempat tersenyum serta tegar, dalam menjawab segala pertanyaan anaknya. Ayahku harus bolak-balik pasar induk dan pasar inpres untuk membawa sayur-sayur jualan ibu. Ibu harus berjuang sendirian di pasar, dengan bungkusan-bungkusan sayur yang sebenarnya terlalu berat untuk dibawanya sendirian, ia masih harus mengantar barang-barang pesanan sendirian, ia harus menjaga adik bungsuku yang rewel dan sakit-sakitan, ia harus membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak makan siang dan makan malam agar anaknya bisa makan dan tidak kelaparan, bahkan, ia membuat keranjang-keranjang sayur dan membersihkan wortel serta kubis agar tetap segar dari pagi hingga malam hari. Dia bahkan merawat kebun kecilku. Ayahku pulang kerja hingga larut malam, aku tahu ia lelah namun selalu menyempatkan diri untuk mengisi bak air, memperbaiki motor kunonya, membantu aku dan adik-adikku belajar dan membantu ibu dengan barang dagangannya. Dengan semua itu, apa istimewanya perbuatanku? Dibandingkan dengan perjuangan mereka yang sangat begitu besar dalam merawat dan menjaga keluarganya. Aku selalu mengeluh dan mengeluh, entah, mengeluh karena tidak diberikan les di luar sekolah dan lupa mensyukuri les gratis di sekolah. Aku lupa bagaimana kerasnya orang tuaku bekerja untuk membiayai pendidikan ku dan kedua adikku, sayang adik-adikku tidak memiliki les gratis di sekolah mereka. Aku mengeluh tentang baju baru, lupa jika aku tidak pernah melihat orang tuaku memakai baju baru. Aku mengeluhkan makanan, lupa jika kondisi fisik adik-adikku lebih lemah dari aku dan jika mereka sampai sakit maka kami semua akan dalam kesulitan. Aku mengeluhkan prinsip ayahku, lupa jika di negara ini orang miskin sering disamakan dengan peminta-minta dan ayahku tak akan membiarkan kami dilecehkan seperti itu. Aku mengeluhkan atap, dinding dan lantai rumah, lupa bagaimana ayah membanting tulang untuk membayar rumah dan merawatnya selama bertahun-tahun. Lalu apa pentingnya perbuatanku? 

Ilustrasi sayang orang tua (foto: guim.co.uk)

Baca Juga: 5 Fakta Tentang “CINTA” Yang Dapat Membuat Mu Berpikir Untuk Jatuh Cinta

Walaupun orang tuaku lelah, mereka tidak pernah membawa kelelahannya di depan anak-anaknya. Ketika kami sakit, ayah dan ibu akan merelakan waktu tidur mereka yang cuma dua jam setiap malam itu untuk menjaga kami. Sementara jika mereka sakit, mereka hanya membaginya diantara mereka berdua tanpa membebani kami dengan keluhan mereka. Dan dengan perbuatanku yang sangat tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan mereka?, aku membuat orang tuaku merasa berdosa kepadaku? Tidak, akulah yang berdosa terhadap mereka. Aku akan kuliah agar aku bisa mengeluarkan keluargaku dari kesulitan-kesulitan ini. Tetapi aku berjanji dalam hatiku tidak akan membebani mereka, bagaimanapun caranya.

Wah.. terharu yah pals.. semoga cerita diatas bisa memotivasi kita tentang perjuangan Orang Tua kita yang begitu luar biasa besarnya demi menghidupi keluarganya terutama Kita. So, sampai ketemu di cerita selanjutnya ya Palss.. see you..  (AN)

Tags

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close