Uncategorized

Mama, Jangan Pernah Mengeluh Untuk Menungguku Pulang Kerumah ya..

Selamat Pagi Pibi, lama banget kita tak berjumpa yah.. hehe.. pasti kalian semua udah pada nggak sabar untuk menunggu artikel dari palingbaru.com, dan sekarang kami kembali hanya untuk kalian semua pibi..

Hari ini, kami akan menyajikan tema yang lebih seru lagi, yang dapat mengingatkan kita semua terhadap ibu kita sekaligus masakan rumah yang selalu membuat kita menjadi makin betah dirumah. Sudahkah kita bersyukur atas segala yang diberikan oleh orang tua kita terutama ibu kita? Dan Ingatkah kita kepada perjuangannya?  sedikit ulasan yang diberikan oleh palingbaru.com, semoga kita semua bisa makin sayang sama ibu kita dan selalu betah karena masakkannya. So, tetep stay tune ya pibi.

Selama Merantau Sekian Lama.. Aku Bukanlah Anak Manja Mama yang Dulu.. Di Sini, Aku Harus Berjuang Demi Meningkatkan Taraf Hidupku, Demi Membuat Mama Bangga Memiliki Anak Seperti ku..

Hidup memang tidak seringan saat aku masih di rumah dulu, Ma. Ketika tanganmu masih bisa kucium sebagai tanda hormat setiap pagi bahkan setiap aku pergi pun aku selalu dapat merasakan sentuhanmu yang lembut secara langsung, atau ketika aku bisa dengan mudah ke dapur lalu memintamu memasakkan hidangan yang kusukai. Dan, kau pun, dengan senangnya menyajikan masakan itu Untukku, tanpa mengeluh seidkitpun.

Tapi tak ada yang kusesali dari keputusanku ini. Bertekad merantau jadi salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil sejauh ini, karena dengan aku merantau, aku bisa belajar untuk menjadi sosok seorang yang tangguh dan Mandiri dalam menghadapi segala hal.

Di sini aku belajar jadi pejuang. Jadi orang yang harus mau pasang badan begadang sampai malam demi mewujudkan keinginan. Di tanah yang baru ini kedewasaanku ini mau gak mau harus tumbuh sedemikian rupa. Aku dipaksa jadi lebih kuat sebagai manusia.

Keyakinan bahwa di sini aku berkembang jadi cambuk, setiap rasa menyerah mulai sedikit timbul dan rasa ingin pulang pun datang, harus aku tahan agar tidak menjadi suatu kebiasaan dalam hidupku. Aku harus jadi anak yang membanggakan untuk Orangtua ku Terutama Ibuku. Aku tidak didik Ibu untuk mudah menyerah setiap kali kesusahan menabuh genderang. Aku ingin pulang hanya saat sudah ada pencapaian yang bisa dikenang dan dibanggakan.

Mati-matian Kucoba Menciptakan Kenyamanan Seperti di Rumah. Namun Kehangatan yang Ibu Tawarkan Selama Ini Pada Ku, Ternyata Tak Semudah Untuk Dipindahkan.

Baca Juga: 5 Alasan, Mengapa Seseorang Masih Ingin Mempertahankan Hubungan nya !

Dari dulu Ibu selalu berpesan pada ku. Aku harus jadi anak yang tangguh yang bisa bertahan hidup di mana saja, gak boleh jadi sosok seorang yang lemah, harus bisa menyesuaikan diri dimana pun berada. Sampai saat ini, nasihatmu masih tergiang di telinga ku. Dan Ibu juga pernah berkata, zona nyaman itu selalu bisa untuk diperluas, selama aku lugas dan tegas, aku pasti bisa tumbuh jadi pelintas batas.

“Ingatlah Nak, rumah adalah suatu perasaan. Bukan sekedar bangunan permanen yang tak bisa dipindahkan.”

Kata-kata Ibu ini ku amini sepenuh hati. Dan Terbukti, ketika aku pernah merasa ingin pulang, ketika ku mampir di pelukan pasangan dalam hari yang panjang. Ini tidak membuat ku untuk lupa akan hangatnya suasana Rumah, Perasaan seperti di rumah selalu aku rasakan, saat memandang kerlip lampu kota dari atas pendakian. Selama aku yakin rumah ada di dalam hati, dia tak akan hilang kemanapun kaki membawa pergi.

Di tempat baru ini, perlahan kuciptakan kembali suasana di rumah yang selalu ingin kudapati. Kuminta Ibu mengirimiku kain sprei lawas yang sudah bertahun-tahun terpasang di kamar. Boneka dan buku-buku lawas, juga Ibu kirimkan demi mengisi rak hiasan yang masih melompong di kamarku saat ini. Musik band favorit yang selama ini memenuhi telinga juga kembali kau dendangkan sepanjang perjalanan.

Seharusnya, ini membuatku selalu merasa pulang ‘kan? Tapi kali ini ekspetasiku tidak berjalan sesuai dengan harapan. Tetap ada ruang kosong yang masih lubang dan belum dapat terisi, walau sudah diganjal dengan tambalan.

Rindu mama (Foto: kabar online)

Baca Juga: Kisah Nyata : “PENYESALAN YANG DILAKUKAN OLEH SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA”

Satu yang Paling Terasa Sampai Saat Ini Dalam Lelung Hatiku. Setiap Kali Rasa Lapar Melanda, Kehangatan Rumah dan Masakan Ibulah yang Selalu Terputar di Kepala.

Ketika masih di rumah dulu, urusan perut tak pernah membuatku pusing seperti saat ini. Saat di rumah, yang kupikirkan hanya harus melipir ke dapur untuk buka lemari, lalu mengambil apapun yang masih tersisa dari santapan yang dibeli waktu itu. Tapi , berbeda jauh dengan disini Ma.

Jangan kan mau minta, meski diijinin pun aku juga gak berani, Ma. Aku harus berpikir berulang kali sebelum memutuskan mau makan apa malam ini. Saat sudah memantapkan hati dan beranjak untuk pergi membeli makanan tersebut pun,ehh.. warung langganan yang biasanya, justru kehabisan menu andalannya, sehingga terasa bosan dilidahku ini. Tak jarang aku harus puas dengan makanan apapun yang bisa ditemukan meskipun, dalam hati terasa jenuh seklai dalma segala menu yang tersedia didekat- dekat sini.

Terkadang, di saat-saat miris karena kelaparan dan bingung harus makan apa, tak sengaja pikiranku terlempar ke dapur rumah yang selalu terisi penuh dengan makanan. Tumis kangkung sederhana buatan Ibu, gorangan tahu isi yang selalu bisa jadi penyelamatku, untuk menyamil. Betapa aku menganggap remeh kemewahan yang ditawarkan oleh masakan rumah, yang selalu dihidangkan oleh Mama.

Jika saja kekuatan magic ala Harry Potter itu beneran ada dalam dunia ini, ingin rasanya aku mengucap mantra,

Accio Mama dan masakan enaknya!” ke udara.

Dan Nyatanya, itu semua hanya mimpi serta imajinasi yang mustahil untuk jadi kenyataan. Pasta ala cafe, masakan rumahan yang dijual di warung langganan, sampai fancy dinner dengan steak wagyu tak ada yang bisa menyaingi masakan rumah buatan Mama.

Andai saja harga tiket pulang dan kesibukan kuliah bisa diakali, aku tak keberatan, jika harus jadi komupter tiap hari demi bisa menikmati masakan rumah buatan Mama.

Kalau Boleh Jujur, Aku Cuma Rindu Sekali Sama Mama. Pada Rumah, Pada Mama, dan Pada Hangatnya Masakan BuatanMu Mom, yang Selalu Menjadi Andalan Nomor Satu Untuk Ku.

Sekian lama di perantauan membuatku sadar. Tugas Mama di rumah memang jauh dari kata mudah. Setiap pagi Mama harus memastikan Papa, Kakak, dan Aku untuk segera bangun dan berangkat tepat waktu, agar tidak terlambat. Tak cuma itu, Mama juga perlu mendelegasikan tugas harian ke Asisten Rumah Tangga kita Yang Pemahmana memeang agak susah.

Sementara kami merasa jadi orang paling sibuk di luar rumah, dalam diam Mama berbenah di rumah demi menyiapkan hidangan terbaik untuk menyambut kami yang pulang dengan keadaan lelah. Aku yang dulu belum tahu susahnya jadi orang dewasa, dan sering kali ku menjawab pertanyaan Mama dengan santainya,

“Yah Ma…maaf sebelumnya, kebetulan udah makan di luar tadi sama teman jadi masih kenyang.”

“Nanti ah Ma makannya. Aku belum lapar.”

Seandainya aku berada dalam posisimu, bisa jadi aku sudah kehabisan serta kesabaran dari jauh-jauh hari. Bahkan, bisa-bisa aku sudah Berhenti untuk masak karena merasa kerja kerasku tak dihargai oleh anak-anakku. Tapi, Mama selalu berbesar hati. Mama hanya akan meletakkan kembali semua peralatan makan yang sudah tersusun rapi, menghangatkan ulang makanan yang sudah serasa agak sedikit dingin, agar masih bisa dimakan untuk esok hari.

Kesabaran dan pengorbanan Mama selama ini, di manapun aku berada memang tak ada duanya. Seperti, Mama yang rela pergi ke Kutub Utara demi memasakkan makanan rumah kesukaan anaknya, aku yakin Mama pun rela melakukan apapun agar buah hati dan keluarga tercintanya, tercukupi seluruh kebutuhannya.

Sementara Itu, Cium Sayang Dariku. Sehat-sehat ya Ma. Anakmu Ini Janji Akan Belajar Lebih Keras dan Lebih Giat Lagi, Demi, Sering Mengunjungimu..

Merantau (kaskus)

Mama tak perlu ke Kutub Utara seperti yang dilakukan oleh “ Ibu yang ada  di video Royco”, yang bisa dibilang mengharukan. Kali ini giliranku yang akan datang untuk dan demi Mama. Aku berjanji akan belajar lebih keras dan giat lagi dari sekarang. Agar setidaknya setiap bulan bisa pulang untuk mengunjungi Mama, Papa dan keluarag disana. Dan tentunya untuk mencicipi masakan Rumah buatan Mama, yang tak ada duanya itu.  Namun, di balik itu aku juga ingin membayar waktu yang mungkin tidak pernah dan belum pernah aku bayarkan.

Aku berjanji akan lebih banyak menyempatkan waktu untuk di rumah, makan masakan rumah yang Mama Buat sendiri dengan tangan halus nan lembut, daripada keluyuran ke cafe-cafe baru yang gak ada nilai sejarahnya sama sekali. Sebab di sini, aku baru sadar bahwa masakan Mama jauh lebih berharga dari sekadar kumpulan sayur dan bumbu-bumbu yang ada ditempat-tempat lain. Terdapat cinta serta kesabaran yang Mama tuangkan di situ.

Maaf ya Ma, anakmu ini jarang menunjukkan penghargaannya disaat kita masih bersama-sama dulu. Barangkali memang jarak dan kedewasaan yang dibutuhkan sebelum, saat ini aku tahu betapa besar pengorbananmu. Berjanji padaku ya  Ma, Mama harus dalam keadaan Sehat selalu supaya bisa terus memasak masakan rumah yang lezat dan maknyuss itu special untukku.

Tunggu aku di rumah yah Ma, aku berjanji akan lebih sering pulang demi mencicipi masakan rumah buatanmu.

masakan mama (pixabay)

Baca Juga: Kisah Hidup Yang Penuh Dengan Perjuangan Orang Tua dan Bisa Membangkitkan Semangatmu!

Hmm.. cukup mengharukan bukan pibi?? Apakah kamu juga sedang didera rindu pada Mama ataupu Ibu Kalian, beserta masakan rumah yang tak ada duanya itu? Ingin segera bisa mengetuk pintu demi menuntaskan rasa rindumu itu?

Jika, karena alasan tanggung jawab dan kesibukan masih menunda kepulanganmu, itu hanya alasan sepeleh yang memeang kamu tidak merindukan orang tua serta masakan Mamamu sendiri. So, jangan sampai menyesal yah Pibi, karena, Kebahagiaan dari Keluarga itu tidak datang dua kali.

Semoga cerita diatas bisa menginspirasi kalian yah Pibi, so, Next Time kita lanjutin lagi ya.. mangkannya tetep stay tune di palingbaru.com ya Pibi.. Thanks and See You.. (AN)

 

Tags

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close