Uncategorized

Move with Matthew Koma: Mendobrak Prasangka Tentang EDM

Ada sebuah kutipan cukup legendaris dari komedian kulit hitam asal Amerika Serikat, Chris Rock, “Inilah akhir dunia: rapper terbaik berkulit putih, pegolf terbaik berkulit hitam”. Kutipan ini merujuk pada Marshall Mathers atau Eminem, dan Tiger Woods. Sebelum Eminem dan Tiger Woods datang, baik musik rap maupun olahraga golf didominasi oleh, masing-masing, kulit hitam dan kulit putih.

Ini juga terjadi pada electronic dance music atau EDM. Sebelum para DJ kulit putih asal Amerika Serikat dan Eropa menguasai lahan ini, pemuda-pemuda kulit hitam di Detroit lah yang melahirkan musik techno berorientasi lantai dansa dan mempopulerkan profesi DJ di klub-klub kota terbesar di negara bagian Michigan tersebut. Belleville Three adalah salah satu pioneer-nya.

Kultur pop merupakan area yang selalu berkembang sepanjang zaman, mulai dari inovator, pelaku, medium, hingga penikmatnya. Fenomena ini terlihat jelas dalam Move Event, Move with Matthew Koma, pada Sabtu (30/07/2016) kemarin. Koma yang dulu lebih banyak berperan sebagai pengisi vokal dan penulis lirik, kini berevolusi menjadi produser EDM dan DJ.

Matthew Koma di Move with Matthew Koma (sumber: Palingbaru)

Kami yang turut menghadiri acara tersebut juga mengamati perkembangan lain. EDM selama ini sering diasosiasikan dengan pesta, klub malam, alkohol, rokok, dan perempuan-perempuan berpakaian serba seksi dengan goyangan erotis. Setidaknya event Move with Matthew Koma mencoba mendobrak prasangka ini. Kami melihat tidak sedikit perempuan-perempuan muda berjilbab dan berpakaian tertutup ikut hadir dan menikmati musik.

Mereka hafal berbagai tracks yang di remix oleh para bintang tamu lain seperti Mahesa Utara. Ketika Koma mengambil alih panggung dengan Find You, Dare, Wasted, F****n’ Romantic, suara mereka tidak kalah kencang dari penonton yang sepertinya sudah biasa pergi ke klub. Apalagi saat Koma mengajak penonton menyanyi Clarity. Justru sepertinya mereka tidak familiar dengan Best of You milik Foo Fighters dan Sweet Dreams (Are Made of This) milik Marilyn Manson yang juga di-remix oleh Koma.

Matthew Koma Mengajak Penonton Bernyanyi (sumber: Palingbaru)

Kami sempat berbincang dengan beberapa dari mereka. Rata-rata mereka baru pertama datang ke event seperti ini dan ingin datang lagi jika ada event serupa. Para perempuan ini juga mengaku memang sangat menggemari EDM terutama yang selalu berada di tangga lagu top dunia. Musiknya membuat mereka bersemangat. Apa mereka pernah ke klub malam? Empat dari enam orang menjawab tidak pernah dan tidak tertarik. “Kami tidak perlu pergi ke klub atau mengonsumsi alkohol untuk menikmati musik ini”, jawab mereka.

Event Move with Matthew Koma membuka mata kami. EDM memang tidak akan bisa dilepaskan dari lantai dansa di klub-klub malam, tapi pengaruh EDM sendiri tidak bisa dibatasi hanya untuk klub malam dan pengunjungnya. Dengan semakin mudahnya akses terhadap EDM, penikmatnya pun akan semakin beragam. Maka, pelan-pelan prasangka bahwa musik ini cuma disukai oleh mereka yang doyan clubbing, alkohol, dan rokok bisa jadi luntur karena semakin banyaknya orang yang murni menikmati musiknya.

(RF/ST/FM)

Baca Juga:

Festival Electronic Dance Music Tahun 2016 Yang Wajib Kamu Datangi Menurut Pilihan Tim PalingBaru

Event Seru Akhir Bulan, Korean Music Festival 8 Surabaya!

Event Seru Malam Ini: Move with Matthew Koma

Applikasi Apple Event Untuk Menonton Live Streaming Apple Event 2016 Sudah Keluar Untuk Para Pengguna Apple TV

Festival Musik Terbesar Dunia, Tahun ini di Milwaukee, Amerika Serikat, Tanggal 26 Juni-3 Juli 2016 dan 5-10 Juli 2016

 

Tags

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close