MemoarMy Story

NH Dini, Sastrawan Indonesia Itu Harus Pergi Selamanya

PalingBaru- Siapa yang tidak kenal NH Dini, bagi para pecinta novel pasti Paham betul dengan sosoknya melalui karya novel ciptaannya.

Ia adalah, sastrawan Indonesia yang terkenal aktif menulis. Sejak tahun 1970-an hingga 2003 sudah puluhan karya novel yang dihasilkan. Antaralain, Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai(1998), Dari Parangakik ke Kamboja (2003) serta karya lainnya dalam bentuk kumpulan cerpen, ataupun kisah kenangan, dan lain sebagainya.

Tahun 2003, NH Dini meraih penghargaan SEA Write Award dalam bidang sastra dari Pemerintah Thailand. Disusul tahun 2017, NH Dini meraih Lifetime Achievment Award Ubud Writers & Readers Festival 2017 (UWRF).

Sebelumnya ia tinggal di Semarang, Jawa Tengah, sebelum memutuskan berpindah ke Sleman, Yogyakarta.

Ketika di Semarang ia membuat Pondok Baca NH Dini di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986.

Kepeduliannya terhadap dunia literasi mengundang anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku dongeng, cerita rakyat, lingkungan Indonesia, dan lain sebagainya.

Ketika ia berpindah ke Yogyakarta pun ia juga membuka taman bacaan. Ia selalu berpesan kepada anak-anak muda agar memperbanyak membaca daripada hanya keluyuran.

Ia memiliki dua anak yang sukses berkarier di luar negeri. Anak pertamanya, Marie-Claire Lintang dosen di University of Windsor di Ontario, Kanada. Anak keduanya Pierre Coffin, adalah seorang animator ternama dunia di Prancis, dan sempat menyutradarai film animasi Minions.

Kini, NH Dini harus pamit selamanya, ia dikabarkan meninggal dunia di usia 82 tahun setelah mengalami kecelakaan di ruas tol Tembalang, Semarang Jawa Tengah, pada Selasa siang (4/12). Selamat Jalan NH Dini, karyamu akan dikenang selamanya.

By Nana Riyana

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close