Uncategorized

Quarter-Life Crisis: Kegalauan di Usia 20an yang akan Kita Syukuri di Masa Depan

Dalam film “Frances Ha” yang mendapat nominasi Golden Globe di tahun 2013, Frances, seorang gadis berusia 27 tahun yang harus hidup dengan menumpang dari satu apartemen ke apartemen lain, ketidakpastian karir, bertengkar dengan teman, dan hubungan asmaranya kacau. Hmm..terdengar familiar?

Kalau saat ini kamu sedang mengalami hal-hal tersebut, kami hanya mau bilang:

Quarter-Life Crisis

Selamat datang di quarter-life crisis. Tidak ada satu definisi resmi mengenai apa itu quarter-life crisis, melainkan tanda-tanda yang menunjukkan kita sedang mengalaminya di usia 20an. Apa yang dialami oleh Frances adalah gejala quarter-life crisis.

Hal ini biasanya terjadi karena realita saat ini tidak sesuai dengan ekspektasi. Setelah kita lulus sekolah, kita mungkin berencana punya pekerjaan tertentu yang kita suka dengan gaji tinggi, teman-teman yang selalu ada, bahkan menikah dengan lelaki idaman yang baik, lucu, tampan, dan berwibawa. Then life happens. Hehehe…

Realita vs Kenyataan

Dr. Oliver Robinson dari University of Greenwich menuliskan dalam hasil risetnya yang berjudul “Emerging Adulthood, Early Adulthood and Quarter-Life Crisis: Updating Erikson for the 21st Century” menyebutkan ada lima fase quarter-life crisis:

Fase pertama: kamu merasa terjebak oleh pilihan hidupmu, misalnya pekerjaan, hubungan pertemanan atau asmara, bahkan keduanya. Sepertinya kamu kamu hidup dalam mode autopilot.

Fase pertama adalah yang terberat dan berisi kegalauan luar biasa. Kita mungkin merasa seperti berada di atas kapal yang akan karam, diterpa ombak besar dan ada ketakutan akan tenggelam tanpa siapapun yang bisa menolong. Bahayanya, jika kita tidak tahu cara mengatasinya, kita bisa semakin frustrasi dan depresi, yang kemudian mengganggu kesehatan mental.

Menurut studi yang dilansir dari situs Mental Healthy menunjukkan: 86% dari 1.100 anak muda mengaku merasa tertekan untuk sukses dalam hubungan, finansial, dan pekerjaan sebelum menginjak 30 tahun; 2 dari 5 khawatir mereka tidak punya cukup uang; 32% merasa dibebani ekspektasi untuk menikah dan punya anak di usia 30 tahun. The Depression Alliance juga mengestimasi sepertiga orang berusia 20an tahun mengalami depresi karena tidak percaya diri untuk mampu berfungsi di masyarakat sebagai orang dewasa setelah masa sekolah.

Kegalauan di Usia 20an

Tapi, tidak semuanya adalah tentang kabar buruk. Ada fase-fase berikutnya yang membuka kemungkinan untuk jadi lebih baik:

Fase kedua: kamu merasakan “aku harus keluar dari situasi ini” dan ada perasaan kalau perubahan itu mungkin jika kamu yakin.

Fase ketiga: kamu keluar dari pekerjaanmu, mengakhiri hubunganmu, atau bahkan menyudahi komitmen yang membuatmu merasa terjebak. Lalu, kamu memasuki ‘zona menjauh’ dimana kamu memilih menyendiri dan mencari tahu siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan.

Fase keempat: kamu mulai membangun kembali hidupmu dengan pelan namun pasti.

Fase kelima: kamu mengembangkan komitmen baru yang lebih sejalan dengan keinginan dan aspirasimu.

Keputusan-keputusan di fase-fase berikutnya pun bukan berarti tidak mengerikan. Kita pasti galau dan khawatir akan membuat kesalahan yang sama. Tapi, kamu harus tahu bahwa quarter-life crisis ­akan menjadi suatu proses yang akan kamu syukuri di masa depan. Kenapa?

Setelah hidup secara linear (dari lahir hingga lulus kuliah), ini saatnya kita mengeksplorasi apa yang mungkin dari hidup ini. Ketakutan akan tersesat adalah wajar. Tidak ada lagi buku petunjuk, silabus, guru atau dosen yang membimbing. Hidupmu sekarang sepenuhnya jadi tanggungjawabmu.

Quarter-life crisis mengajarkan kita tentang kegagalan dan optimisme. Kita akan belajar merasakan pahit sebelum merasakan manis karena begitulah hidup. Lebih baik galau saat masih berusia 20an tahun, daripada nanti ketika di usia 40 atau 50an, kan? Dr. Robinson menyebutkan quarter-life crisis rata-rata bertahan dua tahun. Ia pun menjelaskan bahwa quarter-life crisis adalah pengalaman positif, sebuah katalisator untuk perubahan yang konstruktif dan akhirnya menjadi fondasi untuk kehidupan baru.

Mengalami quarter-life crisis akan mengurangi risiko menderita mid-life crisis nantinya di usia 40an atau 50an. “Jika kamu menyimpan masalah-masalahmu sampai nanti, hal itu akan berdampak jauh lebih buruk karena inertia (penolakan terhadap perubahan) di usia tua itu lebih besar,” ujar Dr. Robinson. Sementara dalam hidup, perubahan adalah hal yang absolut terjadi, kan?

(RF)

Baca Juga: 

Anger Management: Jangan Melakukan Hal-hal Ini Kalau Kamu Sedang Marah

Telemedicine, Senjata Masa Kini dalam Bidang Kesehatan

Tidur Siang Dapat Membuatmu Semakin Kreatif, Lho! Kok Bisa?

3 Jenis Makanan yang Kita Pikir Sehat Ini Ternyata Buruk Bagi Kesehatan

7 Tanda Kamu Mengorbankan Kesehatanmu Demi Pekerjaan

Tags

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close