“X-Men: Apocalypse”: Antara Ekspektasi dan Realita

review xmen

“X-Men: Apocalypse” tayang perdana 18 Mei lalu di berbagai bioskop di Indonesia. Banyak mixed reviews dari para penikmat dan kritikus film setelah screening pertamanya di London beberapa waktu lalu. Meski begitu, antusiasme penggemar  franchise dari Marvel ini pun tetap terasa banget.

Kami di palingbaru.com sendiri juga punya respon dan ulasan kami sendiri berkaitan dengan film besutan sutradara Bryan Singer ini. Ada ekspektasi-ekspektasi tertentu yang kami punya setelah nonton beberapa cuplikan filmnya. Apa ekspektasi-ekspektasi itu terpenuhi? Well, kesempurnaan cuma milik Tuhan, sih. Hehehe...

X-Men: Apocalypse (sumber: The Verge)

Tulisan di bawah ini mengandung spoiler. Kalau kamu tipe orang yang chill aja, lanjutin baca, deh!

Ekspektasi: Alasan kebangkitan Apocalypse pasti sangat fundamental dalam menentukan skala konflik yang akan terjadi antara dia (dan Four Horsemen) dengan X-Men. Maksudnya, akan terasa sangat cliche kalau motivasinya hanya untuk menguasai dunia. Dia butuh landasan yang lebih kuat untuk menjustifikasi ambisinya, sekaligus jadi pancingan agar empat mutan lain mau bergabung sama dia.

Realita: Jujur aja untuk ini kami sedikit bingung. Apocalypse sudah mati. Di abad 20, beberapa orang melakukan ritual untuk (sepertinya) membangunkan dia dari kematian. Apocalypse emang sempat dianggap Tuhan, tapi kematiannya juga karena ada yang mengkhianatinya sebab yakin kalau dia adalah ‘False God’. Mungkin orang-orang yang melakukan ritual itu yakin Apocalypse lah Tuhan sebenarnya.

Ketika dia hidup kembali dan dibawa ke rumah Storm, dia sempat tertegun melihat TV. Ya, wajar, jaman dulu tidak ada TV. Hal berikutnya yang dia lakukan adalah menyentuh layar TV, lalu layarnya bergerak sendiri menayangkan berbagai berita era Perang Dingin, termasuk, kompetisi nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Lalu, dia bilang,”False God”, merujuk ke para politisi.

Apocalypse (sumber: 20th Century Fox)

Nah, menurut kami di palingbaru.com, inilah yang memperkuat ambisinya untuk menguasai dunia. Apocalypse punya versinya sendiri tentang dunia yang tidak sejalan dengan apa yang dilihatnya setelah ia bangkit. Versi itulah yang paling benar. Persoalan orang-orang kuat adalah ego yang tinggi. Para politisi (yang kebetulan juga manusia biasa, bukan mutan) itulah yang dia yakini sebagai ‘False God’. Apa ini alasan yang cukup kuat untuk seorang villain? Iya. Apa mutan lain merasa yang sama? Itu persoalan lain.

Ekspektasi: Nama lain Apocalypse adalah En Sabah Nur yang secara harafiah berarti ‘Yang Pertama’. Lahir ribuan tahun lalu di Mesir Kuno, ia adalah salah satu mutan terkuat yang berambisi menguasai dunia. Sejak kecil Apocalypse mampu menebar ketakutan karena bentuk fisiknya yang ‘ganjil’. Kemampuan intelejensinya juga di atas rata-rata. Namanya juga Apocalypse (kiamat), berarti dia benar-benar kuat dan ditakuti.

Di trailer-nya, Apocalypse emang terlihat sangat mengintimidasi. Dr. Moira sendiri bilang banyak yang meyakini dia adalah Tuhan. Pas Alex Summers bilang Four Horsemen itu ada di Alkitab, Dr. Moira memberi teori lain kalau justru mungkin Alkitab yang terinspirasi dari Apocalypse. Wah! Berarti ngeri banget si Apocalypse ini!

Realita: Sementara Apocalypse mampu membuat beberapa manusia terserap ke dalam dinding hingga mati dan punya anak buah yang tergabung dalam Four Horsemen, termasuk Magneto, tapi semua gaung soal dia di trailer “X-Men: Apocalypse” itu rasanya.....overrated.

Iya, dia mampu membuang nuklir ke luar angkasa (what?), lalu memasuki pikiran Charles Xavier sampai memanipulasinya, tapi itu hanya untuk beberapa saat. Bahkan ketika Charles Xavier dibawa Apocalypse dan Four Horsemen, dia sudah sadar kalau dia harus kembali bersama X-Men. Apocalypse juga tidak bisa membuat Magneto loyal kepada ambisinya.

Magneto emang frustrasi setelah mendapat ketidakadilan dari pemerintah (mmm.. manusia) setelah mereka tahu dia adalah ‘Magneto yang itu’. Oya, persoalan lain dari superhero, kesabaran itu bukan sesuatu yang bisa mereka banggakan. Kemarahan itu menjadi alasan dia bergabung dengan Apocalypse. Sayangnya, Apocalypse lupa mengadakan sesi orientasi untuk anggota baru dan tidak punya kemampuan brainwashing sehingga Magneto pun akhirnya kembali ke jalan yang benar. Sederhananya sih, Apocalypse itu nggak sekuat yang dibayangkan, kok.

Kamu mungkin bertanya,”Terus gimana dengan adegan dalam trailer pas Apocalypse menjadi raksasa dan menghajar Professor X itu?” Kami menyesal harus memberitahu ini, tapi adegan itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Semua itu terjadi di dalam pikiran Apocalypse dan Professor X karena keduanya mampu bertelepati. Zzz....

Ekspektasi: Ada plot twist sebelum sang penjahat akhirnya dikalahkan.

Realita: Plot twist apa, ya? Magneto belum sempat melakukan kerusakan yang tak termaafkan (kecuali bersekongkol dalam hancurnya sekolah mutan milik Professor X sehingga Alex Summers meninggal). Apalagi Professor X. Dia sudah keburu sadar kalau dia salah masuk grup setelah insiden di Cerebro yang membuat Apocalypse bisa memanipulasi pikirannya.

Ekspektasi: Tidak akan ada cara yang mudah untuk mengalahkan Apocalypse dan Four Horsemen, dan Wolverine punya andil di dalamnya.

Realita: Di titik ini kamu sudah tahu kalau Apocalypse tidak sekuat yang dibayangkan.  Jadi, semua excitement itu runtuh. Hanya butuh perubahan suasana hati dan pikiran dari Magneto (yang ternyata mudah), kewarasan dan kebijaksanaan Charles Xavier (yang ternyata tidak terlalu lama hilang), serta kekuatan seorang mutan junior, Jane, yang sebelumnya insecure dan dijauhi teman-teman mutannya, untuk menghabisi Apocalypse.

Mutan yang lain sih punya peran juga, tapi lebih sebagai tim hore. Kecuali Quicksilver. Tanpa dia, sebagian besar X-Men pasti hangus terbakar. Lalu, dimana Wolverine? Entahlah. Mungkin karena dia hanya punya satu film lagi, makanya dia tidak terlalu niat pamer kekuatan disini. Mungkin juga kami yang keliru.

Memang agak sulit menonjolkan semua karakter hebat dalam satu film berdurasi 2,5 jam. Pasti harus ada yang dikorbankan. Tapi, ekspektasi kami yang cukup tinggi setelah nonton trailer lalu dibanting begitu saja habis nonton filmnya. Namun kalau untuk hiburan tanpa banyak mikir, “X-Men: Apocalypse” cukup menghibur, kok! Selamat menonton!

P.S. Jangan langsung meninggalkan studio, ya, karena masih ada post-credit scene. Disini kamu akan lihat segerombolan orang memasuki fasilitas Alkali Lake dan mengambil sesuatu yang dimasukkan ke dalam koper bertuliskan ‘Essex’. Dr. Nathaniel Essex adalah penjahat yang mengasosiasikan diri dengan Apocalypse. Ini kode untuk kita semua bahwa Dr. Essex akan tampil di film berikutnya.

P.S. Raven/Mystique (diperankan Jennifer Lawrence) sempat berkata pada Charles Xavier ketika datang kembali ke Xavier’s School for Gifted Youngsters,”Just because there’s not a war, doesn’t mean there’s peace”. Dugaan kami sih Raven/Mystique sempat baca tulisan Johan Galtung. Hehehe..

(RF/FM/ST)

Baca Juga:

Kita Datang, Kita Nonton, Kita Ulas Captain America: Civil War

Penggemar Film Horor! “Insidious: Chapter 4” Sudah Dapat Jadwal Rilis, Lho! Temukan Informasi Detailnya Disini

Baca Ini Kalau Kamu Masih Bingung Setelah Nonton Cuplikan Film "Assassin's Creed"

Rosa Folia's picture
Last seen: 8 months 3 weeks ago
Joined: 11 May 2016 - 11:14